Menyebutmu dalam pakaianku
“kemana saja aku selama ini” ungkapku pada seorang pegawai optik.
Pengungkapan yang terucap dariku yang meskipun dulu saya mengaku beriman, saya mengingat Rabbku hanya ketika sembahyang, itupun tak lengkap dalam sehari aku sembahyang, jujur, aku salah mengenali definisi ketuhanan pada saat itu dan aku malas mengenalinya karena aku merasa orang orang yang mengenal tuhan di sekelilingku malas mengenaliku. Reaksi berantai, muncullah yang namanya garis kanan atau garis kiri.
Setelah hari pertama, aku mulai ingin mengenalnya atas dasar satu hal yang paling sederhana “aku takut doaku untuk adikku tidak sampai karena terhijab dosa dosaku”, terhalang dosa dosaku. Mulailah aku mendekatkan diri padanya.
“Hei dunia, tipulah selain diriku.. hei dunia, tipulah selain diriku” itulah yang selalu imam ali katakan di sela sela kesehariannya, tapi aku bukanlah Amirul Mukminin, bukanlah seorang Imam, yang meski aku sudah mendeklarasikan keinginanku untuk mendekati tuhan, tetap saja aku tertipu oleh dunia, karena seperti yang telah saya sebutkan tadi aku salah mengenali definisi ketuhanan. Terlebih bagiku, aturan aturan yang disampaikan oleh orang orang yang lebih mengenali tuhan di sekelilingku terlalu berat sampai terkadang dalam pikiranku terlalu mengada ngada. Ini salah, itu salah, ini salah, itu salah, ini salah, itu salah.. padahal konsep islam sendiri adalah agama yang tak memberatkan,
Sampailah aku pada sebuah diskusi dengan temanku yang alim dan diriku yang jahil, dimulai ketika aku mengutarakan bahwa yang berhak membakar daging manusia hanyalah api neraka.
“terus kamu tau itu dari siapa ?” Tanya si alim
“aku tau dari orang tuaku” jawabku
“makannya, tau agama itu jangan cuma sekedar tau dari orang tua” si alim kembali menimpali
namun dia tak menambahkan sampai sesuatu kebenaran.. dan aku tidak mau bertanya lagi.
Betapa tidak puasnya aku saat itu, dia seperti seorang hakim yang memvonis seseorang bersalah namun tak memberikan sebuah hukuman, tentu saja itu menimbulkan pertanyaan.
Aku tidak puas, aku ingin mencari, tak usah terburu buru.. carilah terus.
Lalu di sebuah diskusi lainnya dengan seseorang lain,
“tobat kamu Haikal” katanya
Aku menjawab,
“aku belum siap, apakah kamu menyuruhku untuk bertobat malam ini sedangkan aku yang sudah tau dengan sifatku sendiri, bahwa besok aku akan melakukan kesalahan itu lagi. Aku tidak mau mempermainkan tobat”, kurang lebih begitulah jawabanku beberapa tahun yang lalu.
Dia mengakui bahwa ucapanku ini benar adanya,
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, namun begitu kusadari.. Abu bakar, Umar dan Utsman adalah seseorang yang amat jahiliah sebelum islamnya mereka, jauh lebih jahiliah daripada aku saat ini, hikmahnya bukan kesalahan apa saja yang para sahabat ini pernah lakukan, tapi..
“ternyata islam turun di kalangan umat jahiliah” islam turun untuk memodifikasi prilaku jahiliah ini, orang jahil seperti aku ini yang tentu saja aku sadar bahwa memodifikasi prilaku diriku sendiri tidak akan semudah itu, butuh proses, bimbingan dan kesadaran diri, terlepas dari keteguhan hati atau tekad karena anda sendiri mungkin sadar bahwa tekad adalah sesuatu hal yang selalu naik turun seiring dengan perjalanan hidup, tekad tidak stabil, untuk menstabilkannya butuh bimbingan.
Ternyata islam tidak selalu berarti ulama, ustad, kiai, Qori, dll yang selalu aku bayangkan selama ini karena memang stigma itulah yang ada di masyarakat, pemikiran itulah yang aku dapatkan selama ini. Betapa leganya hatiku, bahwa secara kaidah, islam sebenarnya diturunkan “lebih” untuk seseorang sepertiku agar aku mau memperbaiki diriku, Alhamdulillah.
Proses berarti waktu, Bimbingan berarti seseorang, dan kesadaran diri berarti keinginan, “ingin” saja sudah lebih dari cukup karena tekad yang berlebihan biasanya berakhir dengan kekecewaan, lalu bimbingan adalah seseorang yang saya yakini dia benar dan bisa saya ikuti, lalu sisanya biarlah waktu yang membuktikan apabila umur saya memperkenankan. Sebuah album hip hop dari 50 cent “get rich or die trying” membuat saya miris bahwa seseorang kafir mempunyai kalimat yang begitu bagus saya sadur “menjadi saleh atau biarlah mati ketika aku sedang mencoba menjadi soleh”. Zein.
Dilema muncul di point kedua, yaitu “seseorang”, umpamakan, bolehlah aku mencari seorang wanita yang tidak sempurna, seorang istri yang banyak kekurangannya, tapi untuk mencari seorang pemimpin yang akan memimpinku aku akan mencari seseorang yang sesempurna mungkin, andapun pasti demikian. Sedangkan aku dan nabi Muhammad terpisah 700 tahun lamanya. Dengan kata lain, saya tidak menemukan SESEORANG pun untuk membimbing saya, apalagi ustad ustad di TV, saya hanya menyadur kalimat mereka yang benar, sedangkan untuk prilaku, mereka hanyalah manusia.
Di point kedua inilah aku mulai tersadar bahwa definisi ketuhananku salah, shalat sebagai tiang agama hanyalah makna namun aku menemukan bahwa tiang agama adalah selalu mengingat Allah, selalu mengingat rabb, selalu mengingat dia kapanpun dimanapun bagaimanapun. Tidak terlepas ketika aku sedang nonton bioskop, menghisap sebatang rokok, bahkan ketika saya bercanda dengan teman, dan aku di atas mengutarakannya seakan hal itu gampang. Tidak, ternyata tidak gampang.
Disini aku mengerti apa maksud Amirul Mukminin “hei dunia, tipulah selain diriku.. hei dunia tipulah selain diriku”, bahwa dunia itu memang sangat menipu, ketika saya sedikit saja melakukan hal keduniawian, maka aku terlupa bahwa aku punya tuhan. Astagfirullah Al Adzim. Dan bagi saya tidak lucu kita mengingat Allah hanya ketika adzan dikumandangkan, hanya ketika kita shalat saja.. itupun bagi yang rajin shalat.
Tapi bukanlah manusia bila tak punya akal, aku yang menyadari hal ini memutuskan untuk merubah pernak pernik gantungan dompetku, memotongnya menjadi 33 butir dan kupasang menjadi gantungan kunci motor. Dimulai dari ini, dimulai dari kapanpun aku memegang kunci motor ini, menyimpannya di meja, memasukkannya dalam saku dll, aku memegang tasbih dan mulai melafadazkan dzikir kapanpun aku melihat gantungan kunci motorku, dengan kata lain, gantungan kunci motorku adalah tasbih yang setiap hari harus kubawa dan setidaknya apabila aku melihat atau memegang kunci motorku, timbul niatku untuk dzikir.. syukron illah.
Belum setaun memang, tapi ketika anda percaya pada Allah, percaya bahwa pemilik hari akhir itu ada, kamu selalu mengingat Rabb, maka kamu tak butuh manusia sebagai pembimbing.. Rabbil Alamin akan membimbingmu atas dasar hanya kamu mengingatnya setiap hari.. dan shalat tidak akan terasa menjadi kewajiban ketika kamu sadar betul bahwa kamu memang sedang dibimbing, tapi shalat menjadi keinginan, hanya atas dasar “ingin”. Diringankannya langkahku seperti janjinya.
Ibrahim.. apakah dia punya pembimbing seorang manusia saat itu ?.. dia menemukan Allah hanya karena “ingin” punya tuhan, baginya berhala tidak masuk hati kecilnya, berhala tidak masuk akal dan dia berfikir dan terus berfikir sampai allah membimbingnya menemukan allah sendiri.
Shalat adalah sebuah mata rantai yang menyambungkan ahlak kita, ketika satu mata rantai itu terputus maka bangunan ahlak kita akan rubuh dan butuh waktu untuk membangunnya kembali. Tiangnya adalah mengingat allah, ketika rantai itu terpasang kuat pada tiangnya.Bangunan akhlak akan sulit roboh.
Ini sangat menjelaskan “percuma sholatnya kalau kerjaannya marah marah mulu”, karena dia itu tiang agamanya shalat yang hanya dilakukan di waktu waktu tertentu, coba kalau seseorang itu tiang agamanya adalah selalu mengingat alah, insya allah akhlaknya lebih terjaga. Dan dengan selalu mengingat allah otomatis dia akan shalat. Disinilah saya menyadari apa fungsi bismillah, doa sebelum makan, sebelum tidur, sebelum berpergian.. sebelum apapun dalam islam ada doanya, bukan pada kegiatannya itu sendiri, karena intinya adalah mengingat allah, subhanallah
Bagaimanapun aku terlalu banyak bicara,
Point pertama dimana waktu akan membuktikan, sampai detik inipun aku masih dibimbingnya, semoga. Sampai detik inipun aku belum berani melakukan shalat tobat, shalat ini sangat berat sebelum aku sudah yakin bahwa kebiasaan burukku sudah hilang. Namun satu yang tidak seperti dulu, ketika kebiasaan burukku ini muncul, aku yang dulu bisa nyenyak tidur, tapi aku yang sekarang ketika kebiasaan burukku muncul, akan tertidur dalam penyesalan.
Kasat mata aku tetaplah aku, kalaupun berubah tentulah melalui proses.. 13 tahun aku condong jahiliah dan terlalu keduniawian, apakah bisa kurang dari satu tahun menebusku.. aku menangis untuk ini, hatiku sesak untuk ini.
Arrahman nirrahim, satu kalimat yang benar benar menimbulkan harapanku datang dari seseorang Alim yang tidak ingin terlihat alim, dia berpakaian biasa dan tidak suka menggurui kecuali dia ditanya, menjalankan syariat agamanya dan berhujah dari al Qur an dengan fasih, namun dia tetap bilang “kalau antum mengharapkan apapun dari kita kita, wong kita ini manusia biasa kok, nanti antum (kamu) kecewa lagi”, hanya seorang pegawai toko optik yang kami sering bertemu di jalan kembar.
Kalimat darinya yang benar benar menimbulkan sebuah harapan, “jangan salah loh antum (kamu)” katanya, ”kalau bukan karena kasih sayangnya Allah, tempat orang macam kita kita ini neraka loh”, subhanallah.. benar sekali dia. Sehebat apakah ibadahku, sehebat apa dzikirku, sehebat apa akhlakku dibandingkan si pegawai optik itu, namun dia tetap bilang bahwa kalau bukan kasih sayang Allah, dia itu tempatnya di neraka. Sehebat apakah ibadah si pegawai optik, sehebat apa dzikir si pegawai optik, sehebat apa akhlak si pegawai optik dibandingkan imam imam zaman terdahulu, namun tetap para imam itu selalu minta ampunan dosa.
Kalau bukan karena kasih sayang Allah, maka tempat kita ini neraka.. harapanku hanyalah tinggal kasih sayangnya saja sekarang, meminta kasih sayang Allah dan semoga sang maha pengasih lagi penyayang mengampuni dosa dosaku, dan yang Allah perintahkan untuk kita agar kita sedikitnya bisa meminta kasih sayang itu hanyalah kita menjalani perintahnya dan menjauhi larangannya, bimbing saya untuk itu ya rabb, sampai akhir hayat saya. Menjadi saleh atau mati ketika mencoba.
Aku akan menyebutmu dalam pakaianku, dalam celana kedodoran ini dan baju baju yang kuselaraskan warnanya dengan sepatu, sedikit hartaku ini akan kupakai untuk keperluanku tapi aku akan memberikan hak mereka, apa yang kumiliki ketika aku masih sangat keduniawian biarlah kusimpan namun apabila ada yang sangat membutuhkan akan kuberikan, ilmuku yang kusalah gunakan akan kuperbaiki dengan membagikannya pada siapapun dengan niat baik, ya allah, berikanlah aku kasih sayangmu berikanlah aku ampunan dosa dosaku.
Ya Allah, izinkanlah aku menyebutmu dalam pakaianku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar